Sahabat-sahabat yang sangat aku sayangi selalu menemaniku setiap saat. susah dan duka mereka selalu ada, jika aku tesesat dalam masalah mereka mampu memberikan solusi hingga pada akhirnya masalah- masalah itu selesai. mereka bukan hanya sahabat saja bagiku, melainkan saudara. mereka bak mentari yang mampu memberikan cahayanya padaku setiap saat, tanpa mengeluh dan meminta imbalan dariku. kebaikkan dari sahabatku tak pernah aku lupakan, mereka adalah Anisa dan Hevi aku akan selalu sayang pada kalian.
Kamis, 09 Agustus 2012
Rabu, 01 Agustus 2012
PUISI TERINDAH
Judul : Kasih ku Mencarimu Sampai Darah Penghabisan
oleh : Tulus Purwanto
Kasih.....
kemana rimba ku harus datang menjelang
yang mengantarku kepadamu
hanya sekedar bertatap rupa denganmu kekasihku
dan mengurai simpul-simpul rindu
yang telah lama membelenggu rindu
ku mencari..........
lelah sudah aku melangkah
menapaki setiap jengkalan bumi
mencari di mana surga kau berdiam diri
meski kakiku penuh luka
tapi wajahmu masih ditelan kalbu
kau...
kau terus dan terus melempariku
dengan tanda tanya sebesar-besar kepala
dari balik rimba
hingga akiu terkapar antara asa
yang membiasmenjadi perih yang kian menganga
sampai...
kini ku tlah samapai di ujung asaku
yang menggigil serupa anak kecil
tertimpa hujan di tepian jalan
sedang bayangmu masih saja kalbu
darah....
haruskah aku sayat nadi ini
hingga mengalirlah darah dari luka yang kian menganga
dan mempersembahkan kapadamu
agar aku merasa susah sungguhku
dalam keluh yang kian mengadu
dan akhirnya kau menampakkan rupa
penghabisan....
pada penghabisan ini
kutuliskan rindu pada lembaran angin
dan kukirimkan kepadamu
tetapi sia-sia kembali menahta
anginpun kembali dengan murung muka
tak tau arah menuju tempat di mana kau berada.
oleh : Tulus Purwanto
Kasih.....
kemana rimba ku harus datang menjelang
yang mengantarku kepadamu
hanya sekedar bertatap rupa denganmu kekasihku
dan mengurai simpul-simpul rindu
yang telah lama membelenggu rindu
ku mencari..........
lelah sudah aku melangkah
menapaki setiap jengkalan bumi
mencari di mana surga kau berdiam diri
meski kakiku penuh luka
tapi wajahmu masih ditelan kalbu
kau...
kau terus dan terus melempariku
dengan tanda tanya sebesar-besar kepala
dari balik rimba
hingga akiu terkapar antara asa
yang membiasmenjadi perih yang kian menganga
sampai...
kini ku tlah samapai di ujung asaku
yang menggigil serupa anak kecil
tertimpa hujan di tepian jalan
sedang bayangmu masih saja kalbu
darah....
haruskah aku sayat nadi ini
hingga mengalirlah darah dari luka yang kian menganga
dan mempersembahkan kapadamu
agar aku merasa susah sungguhku
dalam keluh yang kian mengadu
dan akhirnya kau menampakkan rupa
penghabisan....
pada penghabisan ini
kutuliskan rindu pada lembaran angin
dan kukirimkan kepadamu
tetapi sia-sia kembali menahta
anginpun kembali dengan murung muka
tak tau arah menuju tempat di mana kau berada.
Langganan:
Postingan (Atom)