Selasa, 26 Juni 2012

IJINKAN AKU
oleh: Tulus Purwanto
kepada Sari

masih adakah sepi yang mengoyak koyak jiwamu
hingga engkau terkapar antara asa yang membias
menjadi perih yang kian mengiris

bertatap rupa dengan duka yang terus membayang
pada bola matamu yang berkaca
dan luka kian menganga oleh sepi yang semakin gila
menyiksamu hingga ke liang nyawa

mari...
ijinkan aku merajut sulam jiwamu yang koyak
dengan benang kasih yang kupintal dari helaian kesabaran
yang terserak dalam padang sukmaku

agar engkau mampu menangkap warna pelangiku
yang melengkung ke tepian telaga jiwamu
hingga engkau sanggup mencipta segala asa
dalam lembaran kebahagiaan yang nyata.


Pekanbaru, 2012.
Amarah-ku
oleh: Sariani





kebencian yang membayangiku
tak pernah lari dari hidupku
untuk memikirkan kesalahanmu terhadapku
tak mudah bagiku untuk menghitungnya
marah,benci,dan sayangku
selalu menyapaku dikegelapan malam

kicauan burung yang merdu
tak terdengar lagi olehku
pancaran sinar mentari
tak kurasakan lagi dengan kehangatan
aku terhenyak dan menangis
kini.......
amarahku...
telah terdampar di tepi jiwa yang tak berujung
hatiku tersayat oleh semua sikapmu terhadapku


Pekanbaru, 2012
Sebuah Sikap
oleh: Sariani

Waktu beriring mengikuti langkahku
senyuman pahit selalu ku rasakan
kutanam impian direlung hatiku
tanpa arah, namun tetap ku jalani
jalan setapak membawaku pada sebuah tujuan
Duhai impian penghuni jiwaku
daku berlari ke arahmu
kapankah aku bisa menggapaimu
kini hasratku semakin membara
namun,setitik impian tak juga terlihat
Pengharapanku begitu besar
tekad dan keinginan selalu menemaniku
dengan waktu yang tentu
daku harus terus melangkah
untuk dapat menggapaimu.
   Pekanbaru, 2012