Minggu, 15 September 2013
sangat bahagia
hari-hariku saat ini begitu bahagia. berangkat dari kecapean dan bertemu dengan berbagai masalah yang begitu banyak datang dan menghampiri.......... namun, saat aku berada di sini semua yang menumpuk pergi dengan sendirinya...... karena kebersamaan dan kehangatan kekeluargaan di sekolah tempat aku belajar dan mencari ilmu dan pengalaman dalam mendidik sungguh begitu indah dan benar-benar sangat membuatku menghilangkan sejenak kepenatan yang ada, meski hanya sejenak.
Selasa, 19 Maret 2013
tugas SEMANTIK....SARIANI
|
Standar kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
Materi Pembelajaran
|
Kegiatan Pembelajaran
|
Indikator
|
Penilaian
|
Alokasi waktu
|
Sumber Bahan/ alat bantu pembelajaran
|
|
Menulis
4.
Mengungkapkan
pikiran dan pengalaman dalam buku harian dan surat pribadi
|
4.1
menulis buku harian atau pengalaman pribadi dengan memperhatikan cara
pengungkapan dan bahasa yang baik dan benar
4.2
menulis surat dengan memperhatikan komposisi, isi dan bahasa
|
4.1.1
penulisan catatan harian atau pengalaman pribadi
4.2.2
penulisan surat pribadi
|
o
Mengamati dan mencermati contoh buku
harian
o
Menulis pokok-pokok pengalaman pribadi
yang terjadi sehari sebelumnya
o
Mengembangkan pokok-pokok pengalaman
pribadi menjadi sebuah tulisan yang ekpresif dengan menambahkan waktu
kejadian, curahan pemikiran, dan perasaan ke dalam buku
o
Mengamati dan mencermati beberapa
surat pribadi dan surat resmi
o
Menulis surat pribadi dengan
memperhatikan komposisi, isi dan bahasa yang komunikatif
o
Menyunting surat
|
o
Mampu menulis pokok – pokok pengalaman
yang telah terjadi
o
Mampu secara rutin dalam buku harian
dengan bahasa yang ekpresif
o
Mampu menentukan perbedaan komposisi
surat pribadi dengan surat resmi
o
Mampu menulis surat pribadi dengan
bahasa yang resmi
o
Mampu menyunting surat
|
o
Tes penugasan
o
Tes individu
o
Tes unjuk kerja
o
Tuas individu
o
Tugas kelompok
|
2
x 40
4
x 40
|
o
Pengalaman pribadi siswa
o
Buku teks
o
Contoh berbagai surat pribadi dan
surat resmi
o
Buku teks
|
Pendahuluan
Pengajaran Makna pada Tingkat SMP.
Pengajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP kelas VII ternyata ada pembelajaran tentang
makna. Pada buku teks atau buku pedoman untuk guru karya Sugeng – Subagyo
penerbit Bumi Aksara. Pelajaran 1; Pendidikan itu Penting, bagian C; menulis
pada buku harian. Pada bab tersebut dijelaskan tentang bagaimana menulis
pengalaman, pemikiran, dan perasan dengan bahasa yng ekspresif. Bagian D; membaca buku cerita, menyebutkan
hal-hal yang menarik dan tidak menarik. Pada bagian ini dijelaskan bagaiman
siswa dapat menceritakan kembali hal- hal yang menarik dari cerita yang telah dibaca
dengan urutan yang tepat dan bahasa yang menarik. Serta usur-unsur yang
membangun seperti suasana, latar, tokoh, tema, alur dan gaya bahasa.
Ternyata
pada bab tersebut, menjelaskan bagaimana penggunaan kata berantonim dan
bersinonim. Fungsinya, agar siswa lebih teliti dan kritis dalam menggunakan
kata jika akan menulis sebuah karya tulis dan membaca karya sastra yang berupa
novel atau cerpen dan cerita rakyat. Tidak semua kata dapat dituliskan dan
dicocokkan dengan kalimat sebelumnya atau sesudahnya. Untuk itu, siswa harus
memiliki pengetahuan yang cukup baik dalam penguasaan kosa kata.
Penjelasan
1.
Pada buku linguistik
umum karya Faizah tahun 2010, hal 74 menjelaskan:
·
Sinonimi adalah relasi
makna antara kata (frase atau kalimat) yang maknanya sama atau mirip. Ada
beberapa hal yang menyebabkan munculnya kata-kata bersinonimi, seperti
kata-kata yang berasal dari bahasa daerah, bahasa nasional dan bahasa asing.
Sinonimi dapat muncul antara kata, frasa atau kalimat yang berbeda ragam
bahasanya (ragam resmi dan tidak resmi). Kata-kata yang mendapat nilai rasa
(konotasi) yang berbeda juga dapat bersinonimi.
a.
1. Ayah selau berharap agar ditahun ini ibu segera hamil
kata
sinonimi
2. Sudah sejak lama bibi duduk perut frase
b.
1. Mudah-mudahan
pengidap penyakit kencing manis di
Indonesia tahun ini berkurang.
2.
Penyakit diabetes banyak menyerang
masyarakat berstrata menengah ke atas.
·
Antonimi atau oposisi
merupakan relasi makna antar kata yang
bertentangan atau berkebalikan maknanya. Istilah antonimi digunakan untuk
oposisi makna dalam pasangan leksikal bertaraf, seperti panas dengan dingin.
Antonimi ini disebut bertaraf karena antara panas
dengan dingin masih ada kata-kata
lain yakni hangat dan suam-suam kuku. Oposisi makna dalam
pasangan leksikal tidak bertaraf yang
maknanya bertentangan disebut oposisi komplementer, seperti jantan dan betina.
2.
Pada buku Cermat Berbahasa Indonesia karya Arifin
dan Tasai menjelaskan;
·
Sinonim adalah dua kata
atau lebih yang pada asasnya mempunyai maknayang sama, tetapi bentuknya
berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan.
Kesinoniman ini dipergunakan untuk mengalih-alihkan pemakaian kata pada tempat
tertentu sehingga kamat itu tidak membosankan, mampu menghidupkan dan
mengkonkretkan bahasa seseorang sehingga kejelasan berkomunikasi terwujud.
3.
Pada buku Pengantar Semantik Bahasa Indonesia karya Chaer, menjelaskan;
·
Secara etimologi kata
sinonimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti ‘nama’, dan
syn yang berarti ‘dengan’. Maka secara harfiah kata sinonimi berarti nama lain
untuk benda atau hal yang sama. Secara semantik kata, frase dan kalimat yang
memiliki makna yang hampir sama. Namun, hubungan makna antara dua buah kata
yang bersinonim bersifat dua arah. Ada sebuah prinsip semantik yang menjelaskan
jika bentuknya berdeda maka maknanyapun berbeda, walaupun perbedaannya hanya sedikit.
Dengan demikian juga kata-kta yang bersnonim, karena bentuknya yang berbeda
maka maknanya pun tidak persis sama. Jika ada kesamaan, maka kesamaan itu tidak
mutlak adanya. Kemudian penggunaan dan penggantian atas kata tidak dapat
dilakukan dengan seenaknya, perlu memperhatikan kata sebelum dan sesudahnya.
buruk jelek
Contoh;
a. Andin mempunyai prilaku yang buruk di sekolahnya
sinonimi
b. Andin
mempunyai prilaku yang jelek di sekolahnya
Pada contoh tersebut, penggantian
kata sinonimi tidak dapat dilakukan. Kata yang cocok adalah pada kalimat pertama. Karena kata jelek dan buruk memiliki bentuk yang berbeda, sudah pasti maknanya juga
berbeda. Kata jelek lebih pada prilakunya (sifatnya), sedangkan kata jelek
lebih dipadankan pada personanya atau orangnya.
·
Antonimi, berasal dari
bahasa Yunani kuno yakni onoma ‘nama’ dan anti ‘melawan’. Dalam semantik
mendefinisikan bahwa antonimi adalah ungkapan berupa kata dan bisa berupa frasa
dan kalimat. Hubungan antar dua buah kaliamt antonimi bersifat dua arah, sama
halnya dengan sinonimi. Antonimi terapat pada semua tataran bahasa. Namun,
dalam buku pelajaran bahasa Indonesia, mendefinisikan antoni sebagai lawan
kata. Pengertian itu ditolak, karena pada dasarnya bukan kata-kata yang
berlawanan melainkan makna dari kata-kata tersebut yang berlawanan. Kebenaran
dari kata yang berkebalikan belum dapat dikatakan mutlak berlawanan. Karena
pada dasarnya maknanya yang dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain.
Seperti halnya pada kata menjual dan membeli yang merupakan 2 kegiatan yang dilakukan bersamaan, tidak
akan ada proses membeli jika menjual juga tidak ada, serta membuka dan menutup.
Contoh yang sudah pasti berlawanan adalah hidup
dan mati. Karena sesuatu yang
hidup belum atau tidak mati, sedangkan yang mati sudah pasti tidak hidup lagi.
Contoh;
a. Anak itu mencari sesuap nasi untuk
menyambung hidup
antonimi
b. Tanpa
sesuap nasi dia akan mati
Penjelasannya, contoh yang pertama
makna kata hidup adalah, jika anak itu ingin hidup maka iaharus makan sesuap
nasi. Sedangkan pada contoh yang kedua, tanpa sesuap nasi dia pasti akan mati
atau tidak hidup lagi.
4.
Pada buku Bahan Ajar
Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia SMA karya Sinaga, menjelaskan;
·
Sinonim adalah
persamaan kata, dapat berupa frasa dengan frasa, morfem bebas dengan kata,
morfem dengan morfem, dan kalimat aktif dengan kalimat pasif. Namun, maknanya
juga tidak mutlak memiliki kesamaan.
·
Antonim adalah lawan
kata, namun tidak mutlak berlawanan.
5.
Pada buku Sintaksis
Bahasa Indonesia (pendekatan proses) karya Chaer, menjelaskan;
·
Penyebutannya bukan
dengan sinonim, namun padanan kata. Kata atau frasa yang maknanya berpadanan
dengan kata atau frasa lain dapat digunakan untuk menghubungkan atau mengaitkan
dua buah kalimat di dalam sebuah wacana. Contohnya, frasa tidak dapat masuk dengan gagal.
·
Lawan kata, kata atau frasa yang maknanya
berlawanan, bertentangan, beroposisi, atau berkontras dapat digunakan untuk
mengaitkan dua buah kalimat di dalam sebuah wacana. Contohnya;
1. Saya
mau menjual. Anda mau membeli. Kalau harga sudah kita sepakati , kita akan
sama-sama puas.
Langganan:
Postingan (Atom)