Selasa, 19 Maret 2013

tugas SEMANTIK....SARIANI



Standar kompetensi
Kompetensi Dasar
Materi Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
Indikator
Penilaian
Alokasi waktu
Sumber Bahan/ alat bantu pembelajaran
Menulis
4.
Mengungkapkan pikiran dan pengalaman dalam buku harian dan surat pribadi
4.1 menulis buku harian atau pengalaman pribadi dengan memperhatikan cara pengungkapan dan bahasa yang baik dan benar



















4.2 menulis surat dengan memperhatikan komposisi, isi dan bahasa









4.1.1 penulisan catatan harian atau pengalaman pribadi























4.2.2 penulisan surat pribadi

o   Mengamati dan mencermati contoh buku harian
o   Menulis pokok-pokok pengalaman pribadi yang terjadi sehari sebelumnya
o   Mengembangkan pokok-pokok pengalaman pribadi menjadi sebuah tulisan yang ekpresif dengan menambahkan waktu kejadian, curahan pemikiran, dan perasaan ke dalam buku
o   Mengamati dan mencermati beberapa surat pribadi dan surat resmi
o   Menulis surat pribadi dengan memperhatikan komposisi, isi dan bahasa yang komunikatif
o   Menyunting surat

o   Mampu menulis pokok – pokok pengalaman yang telah terjadi
o   Mampu secara rutin dalam buku harian dengan bahasa yang ekpresif
















o   Mampu menentukan perbedaan komposisi surat pribadi dengan surat resmi
o   Mampu menulis surat pribadi dengan bahasa yang resmi
o   Mampu menyunting surat
o   Tes penugasan
o   Tes individu






















o   Tes unjuk kerja
o   Tuas individu
o   Tugas kelompok
2 x 40


























4 x 40
o   Pengalaman pribadi siswa
o   Buku teks





















o   Contoh berbagai surat pribadi dan surat resmi
o   Buku teks




















 Pendahuluan
 Pengajaran Makna pada Tingkat SMP.

Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP kelas VII ternyata ada pembelajaran tentang makna. Pada buku teks atau buku pedoman untuk guru karya Sugeng – Subagyo penerbit Bumi Aksara. Pelajaran 1; Pendidikan itu Penting, bagian C; menulis pada buku harian. Pada bab tersebut dijelaskan tentang bagaimana menulis pengalaman, pemikiran, dan perasan dengan bahasa yng ekspresif. Bagian D; membaca buku cerita, menyebutkan hal-hal yang menarik dan tidak menarik. Pada bagian ini dijelaskan bagaiman siswa dapat menceritakan kembali hal- hal yang menarik dari cerita yang telah dibaca dengan urutan yang tepat dan bahasa yang menarik. Serta usur-unsur yang membangun seperti suasana, latar, tokoh, tema, alur dan gaya bahasa.
Ternyata pada bab tersebut, menjelaskan bagaimana penggunaan kata berantonim dan bersinonim. Fungsinya, agar siswa lebih teliti dan kritis dalam menggunakan kata jika akan menulis sebuah karya tulis dan membaca karya sastra yang berupa novel atau cerpen dan cerita rakyat. Tidak semua kata dapat dituliskan dan dicocokkan dengan kalimat sebelumnya atau sesudahnya. Untuk itu, siswa harus memiliki pengetahuan yang cukup baik dalam penguasaan kosa kata.

Penjelasan
1.      Pada buku linguistik umum karya Faizah tahun 2010, hal 74 menjelaskan:
·         Sinonimi adalah relasi makna antara kata (frase atau kalimat) yang maknanya sama atau mirip. Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya kata-kata bersinonimi, seperti kata-kata yang berasal dari bahasa daerah, bahasa nasional dan bahasa asing. Sinonimi dapat muncul antara kata, frasa atau kalimat yang berbeda ragam bahasanya (ragam resmi dan tidak resmi). Kata-kata yang mendapat nilai rasa (konotasi) yang berbeda juga dapat bersinonimi.
a.    1. Ayah selau berharap agar ditahun ini ibu segera hamil         kata
  sinonimi
2. Sudah sejak lama bibi duduk perut        frase

b.      1. Mudah-mudahan pengidap penyakit kencing manis di Indonesia tahun   ini berkurang.
2. Penyakit diabetes banyak menyerang masyarakat berstrata menengah ke   atas.
·         Antonimi atau oposisi merupakan relasi makna antar  kata yang bertentangan atau berkebalikan maknanya. Istilah antonimi digunakan untuk oposisi makna dalam pasangan leksikal bertaraf, seperti panas dengan dingin. Antonimi ini disebut bertaraf karena antara panas dengan dingin masih ada kata-kata lain yakni hangat dan suam-suam kuku. Oposisi makna dalam pasangan leksikal tidak bertaraf  yang maknanya bertentangan disebut oposisi komplementer, seperti jantan dan betina.

2.      Pada buku Cermat Berbahasa Indonesia  karya Arifin dan Tasai menjelaskan;
·         Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai maknayang sama, tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan. Kesinoniman ini dipergunakan untuk mengalih-alihkan pemakaian kata pada tempat tertentu sehingga kamat itu tidak membosankan, mampu menghidupkan dan mengkonkretkan bahasa seseorang sehingga kejelasan berkomunikasi terwujud.



3.      Pada buku Pengantar Semantik Bahasa Indonesia karya Chaer, menjelaskan;
·         Secara etimologi kata sinonimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti ‘nama’, dan syn yang berarti ‘dengan’. Maka secara harfiah kata sinonimi berarti nama lain untuk benda atau hal yang sama. Secara semantik kata, frase dan kalimat yang memiliki makna yang hampir sama. Namun, hubungan makna antara dua buah kata yang bersinonim bersifat dua arah. Ada sebuah prinsip semantik yang menjelaskan jika bentuknya berdeda maka maknanyapun berbeda, walaupun perbedaannya hanya sedikit. Dengan demikian juga kata-kta yang bersnonim, karena bentuknya yang berbeda maka maknanya pun tidak persis sama. Jika ada kesamaan, maka kesamaan itu tidak mutlak adanya. Kemudian penggunaan dan penggantian atas kata tidak dapat dilakukan dengan seenaknya, perlu memperhatikan kata sebelum dan sesudahnya.
 

buruk                                                   jelek

Contoh;
a.       Andin mempunyai prilaku yang buruk di sekolahnya

                                                                                            sinonimi
b.      Andin mempunyai prilaku yang jelek di sekolahnya

Pada contoh tersebut, penggantian kata sinonimi tidak dapat dilakukan. Kata yang cocok adalah  pada kalimat pertama. Karena kata jelek dan buruk memiliki bentuk yang berbeda, sudah pasti maknanya juga berbeda. Kata jelek lebih pada prilakunya (sifatnya), sedangkan kata jelek lebih dipadankan pada personanya atau orangnya.

·         Antonimi, berasal dari bahasa Yunani kuno yakni onoma ‘nama’ dan anti ‘melawan’. Dalam semantik mendefinisikan bahwa antonimi adalah ungkapan berupa kata dan bisa berupa frasa dan kalimat. Hubungan antar dua buah kaliamt antonimi bersifat dua arah, sama halnya dengan sinonimi. Antonimi terapat pada semua tataran bahasa. Namun, dalam buku pelajaran bahasa Indonesia, mendefinisikan antoni sebagai lawan kata. Pengertian itu ditolak, karena pada dasarnya bukan kata-kata yang berlawanan melainkan makna dari kata-kata tersebut yang berlawanan. Kebenaran dari kata yang berkebalikan belum dapat dikatakan mutlak berlawanan. Karena pada dasarnya maknanya yang dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain.
Seperti halnya pada kata menjual dan membeli yang merupakan 2 kegiatan yang dilakukan bersamaan, tidak akan ada proses membeli jika menjual juga tidak ada, serta membuka dan menutup. Contoh yang sudah pasti berlawanan adalah hidup dan mati. Karena sesuatu yang hidup belum atau tidak mati, sedangkan yang mati sudah pasti tidak hidup lagi.
Contoh;

a.       Anak itu mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup
   antonimi
b.      Tanpa sesuap nasi dia akan mati

Penjelasannya, contoh yang pertama makna kata hidup adalah, jika anak itu ingin hidup maka iaharus makan sesuap nasi. Sedangkan pada contoh yang kedua, tanpa sesuap nasi dia pasti akan mati atau tidak hidup lagi.


4.      Pada buku Bahan Ajar Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia SMA karya Sinaga, menjelaskan;
·         Sinonim adalah persamaan kata, dapat berupa frasa dengan frasa, morfem bebas dengan kata, morfem dengan morfem, dan kalimat aktif dengan kalimat pasif. Namun, maknanya juga tidak mutlak memiliki kesamaan.
·         Antonim adalah lawan kata, namun tidak mutlak berlawanan.
5.      Pada buku Sintaksis Bahasa Indonesia (pendekatan proses) karya Chaer, menjelaskan;
·         Penyebutannya bukan dengan sinonim, namun padanan kata. Kata atau frasa yang maknanya berpadanan dengan kata atau frasa lain dapat digunakan untuk menghubungkan atau mengaitkan dua buah kalimat di dalam sebuah wacana. Contohnya, frasa tidak dapat masuk dengan gagal.
·          Lawan kata, kata atau frasa yang maknanya berlawanan, bertentangan, beroposisi, atau berkontras dapat digunakan untuk mengaitkan dua buah kalimat di dalam sebuah wacana. Contohnya;
1.      Saya mau menjual. Anda mau membeli. Kalau  harga sudah kita sepakati , kita akan sama-sama puas.                     



Tidak ada komentar:

Posting Komentar